Dokumentasi

Taman Suropati Chambers
Published 12/14/2008 – 3:33 a.m. GMT
Rate This Article:
1

Slide Show

ABOUT THE AUTHOR
 
 
 

Taman Surapati. Minggu pagi. Beberapa orang tampak berlari kecil dengan handuk di leher. Tampak juga beberapa orang lanjut usia berjalan kaki. Sementara anak kecil berlarian kesana kemari. Ditengah hembusan hawa sejuk dan keramaian taman, terdengar sayup-sayup alunan musik dari gesekan belasan biola. Alunan musik itu begitu harmonis. Terkadang riang terkadang mendayu-dayu. Seolah melengkapi suara kicau burung pagi itu. Ada yang hirau ada yang tidak. Tapi para pemusik tak peduli. Mereka di sana memang bukan untuk menarik perhatian, tetapi untuk berkesenian. Demikian barangkali di benak mereka.

Agustinus yang akrab dipanggil Ages, merupakan salah satu perintis kegiatan bermusik di Taman Surapati ini. Semua diawali pada tahun 2006, saat ia menghadiri workshop keroncong di Den Haag. Di sana ia melihat beberapa musisi memainkan musik di taman kota dan tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk melakukan hal yang sama di Indonesia. Ide ini kemudian dikembangkan oleh ketiga temannya sesama pemain alat musik gesek yang akhirnya membentuk sebuah komunitas. Setiap Minggu mereka berkumpul dan bermain musik di Taman Suropati, hingga akhirnya banyak orang yang menjadikan taman ini tempat berlatih musik. Komunitas ini kemudian dinamai Taman Suropati Chambers (TSC).

TSC pun semakin berkembang. Dari jumlah anggota yang secuil, kini telah membengkak hingga mencapai 140 orang, yang didominasi oleh pemain biola dan pemetik gitar. TSC biasa berlatih musik setiap hari Minggu pagi sampai sore. Namun terkadang mereka juga sampai malam.

Dengan latar belakang SPG (Sekolah Pendidikan Guru), Ages memiliki pengalaman mengajar. Ages yang belajar musik secara otodidak mencoba berbagi ilmu di sini. Dalam melatih, ia tetap berpatokan pada genre musik klasik. Namun mereka juga diajarkan lagu-lagu daerah dengan harapan agar mengetahui sekaligus mencintai musik-musik daerah dan nasional. Total pengajar di TSC ada delapan orang yang beberapa diantaranya merupakan ‘mantan’ murid, tapi kemudian diminta mengajar di ‘almamater’nya.

Di tengah udara terbuka, mereka berlatih musik dengan giatnya tanpa mempedulikan orang di sekeliling mereka. Terlihat pula beberapa orangtua menemani anaknya yang sedang berlatih. “Di sini orang tua ikut melihat latihan. Bahkan kebanyakan peralatan yang ada merupakan sumbangan dari orangtua anggota”, ungkap Ages. “TSC terbuka bagi mereka yang ingin belajar musik, dengan background apapun. Mulai dari pedagang, pelajar, pegawai kantor, hingga pengusaha, semua terkumpul dalam TSC. Bahkan pengamen juga ada di komunitas ini. Ia menabung untuk beli biola agar bisa ikut bergabung dalam latihan”, tambahnya. Benar-benar niat!

Para pengajar di sini terdorong oleh keinginan pribadi untuk berbagi ilmu dan tidak mengedepankan materi. Ages sendiri secara sukarela mengajari musik kepada anggota komunitas ini. Ages berpikir hal ini merupakan sumbangan yang bisa diberikan untuk musik Indonesia.

Latihan yang rutin tentu membutuhkan biaya. Awalnya berlatih di sini tidak dikenakan biaya. Namun seiring anggota yang semakin bertambah dan keperluan lainnya, maka tiap anggota dikenakan iuran sebesar 100 ribu rupiah setiap bulan bagi mereka yang mampu sebagai ganti ongkos fotokopi, transpor, dan hal-hal yang berhubungan dengan acara komunitas.
Ini jauh lebih murah ketimbang les musik yang bisa menghabiskan sekitar 200 ribu hingga 400 ribu rupiah dengan durasi pertemuan sekitar 30 menit – 1 jam saja. Di sini, anggota bebas mau berlatih berapa lama tanpa perlu khawatir waktunya dibatasi.

Ages juga memaparkan bahwa beberapa anggota TSC terlihat sangat serius mendalami musik. Ages berharap mereka-mereka yang mencintai musik dapat diberikan beasiswa untuk menggapai impian mereka. “Kami ingin anak-anak yang memiliki bakat namun tidak mampu, bisa diberikan beasiswa.”

Tak hanya berlatih di taman, TSC pernah melakukan konser di Balai Sidang dan diundang untuk tampil di Istana Negara dalam acara Parade Senja. Selain musik, di taman ini juga ada seni melukis kaos, teater, bahkan baca puisi. (chika

20/10/08 18:25

Menyemai “Pasukan Idris Sardi” di Paru-paru Menteng

Oleh Rz Subagiyo

Jakarta,(ANTARA News) – “Di pucuk pohon cempaka, burung kutilang berbunyi….,” lagu anak-anak yang sering didendangkan di sekolah, sayup-sayup terdengar dari alunan musik gesek yang dimainkan sebuah kelompok orkestra.

Irama yang lembut, nada-nada yang merdu dari instrumen yang didomuninasi alat musik gesek seperti biola, cello serta ditingkat alat musik tiup fluit di tengah teduhnya pepohonan munggur di teriknya siang hari menjadikan lagu karya Ibu Sud tersebut nikmat dirasakan.

Lagu Burung Kutilang hanya salah satu lagu yang dibawakan secara orkestra oleh Komunitas Taman Surapati, sebuah kelompok musik yang setiap hari Minggu bermain di Taman Surapati Jakarta Pusat.

Mendengar sebuah kata orkestrasi biasanya yang terbayang adalah pergelaran musik di gedung megah dengan suasana formal dan kaku, serta lagu-lagu yang sulit dicerna oleh telinga kaum awam.

Imej seperti itu memang tidak salah karena ketika menonton sebuah pergelaran musik orkestra, pengunjung diberikan aturan-aturan yang amat ketat mulai dari pakaian yang dikenakan hingga sikap di dalam gedung.

Sementara itu, musik-musik yang dilantunkan dalam orkestrasi umumnya karya-karya klasik ciptaan musisi-musisi dunia seperti Beethoven, Mozart ataupun JS. Bach yang terdengar seperti tali-tali yang melilit.

Namun tidaklah demikian dengan lagu-lagu orkestra yang dibawakan Komunitas Taman Surapati, karena di sini justru lagu-lagu daerah maupun lagu-lagu nasional penggugah nasionalisme yang sering dimainkan.

Oleh karena itu tak heran jika menikmati musik orkestra di Taman Surapati akan sering terdengar lagu Gundul Pacul dari Jawa Tengah, Bungong Jeumpa dari Aceh, atau Rayuan Pulau Kelapa serta Indonesia Pusaka maupun lagu-lagu sejenis lainnya.

Agis, penggagas kelompok yang baru dibentuk 1,5 tahun lalu itu mengungkapkan sengaja mimilih lagu-lagu daerah dan lagu nasional untuk dimainkan karena berangkat dari keprihatinanya terhadap fenomena yang terjadi saat ini.

Lelaki berambut gondrong yang hanya lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Muntilan Jawa Tengah itu melihat generasi muda saat ini kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia karena tidak lagi mengenal lagu-lagu daerah maupun lagu nasional bangsanya.

“Melalui komunitas ini kami ingin mengajak anak-anak muda untuk mengenal dan pencintai lagu-lagu daerah maupun lagu nasional yang menjadi milik bangsanya,” katanya.

Berangkat dari niat itulah pria yang saat ini juga berprofesi sebagai guru musik tersebut membentuk komunitas musik yang jauh dari eksklusifitas namun justru membaur dengan masyarakat.

Pilihan sebuah taman sebagai tempat aktivitas bermusik tidak hanya ingin menghilangkan kesan bahwa musik orkestra identik dengan musik gedongan namun juga memperlihatkan bahwa seni adalah milik seluruh lapisan masyarakat.

Untuk itulah Komunitas Taman Surapati tersebut tak hanya beranggotakan orang kaya –apalagi selama ini alat musik biola identik dengan kaum berduit– namun anak-anak jalanan maupun tukang sapu taman juga bisa bergabung ke dalamnya.

“Saat ini sekitar 25-35 persen anggota kami justru berasal dari anak-anak jalanan,” kata Agis sambil menambahkan total anggota Komunitas Taman Suropati sekitar 170 orang terdiri dari komunitas musik gesek maupun komunitas gitar.

Agis mengakui, banyak anak-anak berbakat yang tercecer di jalanan karena tidak mempunyai biaya untuk belajar musik sehingga melalui Komunitas Taman Surapati mereka bisa menyalurkan bakatnya yang terpendam selama ini.

Pria yang pernah malang-melintang menjadi pengamen jalanan itu berharap komunitas yang didirikannya menjadi sebuah lembaga pendidikan non formal yang bisa menjemput bola memberikan pendidikan bagi mereka yang tidak mampu secara finansial.

Belajar musik juga tidak mengenal batas usia, oleh karena itu dari anak-anak usia delapan tahun, remaja SMA, anak kuliahan hingga kakek-kakek nampak menyatu dalam komunitas tersebut dan mereka bisa bermain musik bersama-sama secara harmonis.

Yang dewasa, bisa membayangkan dirinya sebagai Idris Sardi. Yang anak-anak, bisa seketika merasakan tampil dan ditonton, seperti sang maestro biola yang mulai berkonser saat usia 10 tahun.

Tak hanya dari Jakarta, namun anggota komunitas musik ini juga banyak berdatangan dari Bekasi, Depok, Parung serta Serpong Tangerang.

Meskipun Komunitas Taman Surapati bukan sebuah kelompok musik seperti grup-grup musik yang digawangi musisi-musisi besar seperti Purwatjaraka, Erwin Gutawa, Elfa Scioria ataupun Dwiki Darmawan namun bukan berarti tidak memiliki prestasi.

Komunitas Taman Surapati pernah melakukan konser di Balai Sidang Jakarta, bahkan diundang pentas ke Istana Negara dan didengarkan langsung oleh Presiden dalam acara parade senja.

Miliki kelebihan

Sejumlah orang tua yang anaknya turut bergabung dalam Komunitas Taman Surapati menilai kelompok seperti memiliki kelebihan tersendiri sebagai tempat belajar musik bagi anak-anaknya.

Cecilia, ibu rumah tangga yang bermukim di Kelapa Gading mengatakan, dengan belajar di alam terbuka anaknya tidak hanya belajar musik namun juga bersosialisasi dengan masyarakat lainnya.

Sistem pengajaran yang tidak kaku, seperti halnya di tempat-tempat kursus musik, membuat anak lelakinya yang masih berusia 10 tahun tidak malu untuk bertanya apalagi setiap anggota yang lebih mampu bisa menjadi “guru” bagi anggota lainnya.

“Dengan bergabung di komunitas ini banyak nilai positif yang diterima anak-anak,” katanya.

Rita, orang tua salah satu anggota lainnya menilai tidak hanya dari cara pengajaran namun yang sangat membanggakan adalah penanaman nilai kebangsaan dan cinta tanah air bagi remaja melalaui pengenalan lagu-lagu daerah dan lagu nasional.

“Selama ini kita selalu ribut kalau lagu kita diambil orang lain, namun tidak ada upaya nyata untuk melindunginya. Melalui komunitas ini diharapkan mampu menjaga lagu-lagu milik bangsa Indonesia,” katanya.

Tak hanya itu bagi orang tua lainnya belajar musik melalui Komunitas Taman Surapati meskipun harus mengeluarkan uang kontribusi namun, jika dihitung secara ekonomi lebih murah dibandingkan mengikuti kursus-kursus.

Anggota komunitas tersebut setiap bulan dikenakan iuran sebesar Rp100 ribu sebagai pengganti ongkos fotokopi bahan pelajaran, minuman, ataupun transportasi jika mendapat undangan pentas.

“Kalau kita ikut kursus biayanya bisa Rp300 ribu hingga Rp400 ribu setiap bulan atau Rp150 ribu hingga Rp200 ribu jika mendatangkan guru ke rumah itupun waktunya hanya 40 menit setiap kali pertemuan,” kata Yeni yang juga anaknya bergabung di Komunitas Taman Surapati.

Sedangkan belajar musik di Taman Surapati tidak dibatasi waktu, karena biasanya dari pukul 10.00 hingga 17.00 bahkan ada yang hingga malam hari.

“Belajar di sini tidak bosen karena banyak temannya. Kalau di rumah hanya sendirian udah gitu hanya 30 menit,” kata Nawang pelajar kelas dua SMP di Jakarta Barat.

Selain belajar musik, baik not balok maupun teknik bermain alat musik, para anggota juga bisa belajar memperbaiki biolanya dari anggota yang lain ataupun sekedar “menyulap” biola kualitas tiga menjadi setara kelas satu.

Pilot Proyek

Agis yang juga didaulat sebagai ketua komunitas itu mengakui apa yang dilakukannya di Taman Surapati tersebut merupakan sebuah pilot proyek untuk mengembangkan komunitas-komunitas serupa di daerah lain.

Ke depan diharapkan banyak bermunculan komunitas serupa yang memanfaatkan taman-taman kota sebagai tempat pengajaran bermusik non formal dan tidak eksklusif.

“Kami akan mengirim dua orang mentor ke daerah-daerah lain untuk membantu pengembangan komunitas seperti,” katanya.

Kini yang diharapkan laki-laki itu adalah adanya perhatian dari pemerintah maupun swasta untuk lebih mengembangkan komunitasnya.

Beberapa instansi seperti Bappenas memang sudah memberikan perhatiannya bahkan Atase Kebudayaan Amerika Serikat telah memberikan bantuan pendanaan karena tergugah dengan apa yang dilakukan Komunitas Taman Surapati.

“Kami ingin nantinya anak-anak yang tidak mampu namun memiliki bakat bisa mendapatkan beasiswa,” katanya.

Komunitas Taman Surapati nantinya tidak hanya menampung mereka yang berminat di bidang musik orkestra namun juga akan dikembangkan ke musik keroncong, yang saat ini juga sudah banyak ditinggalkan serta seni lukis.(*)

COPYRIGHT © 2008

Simponi di Taman Suropati

oleh: yaumil.fadhil[at]merdeka.co.id
Sabtu, 13 Desember 2008
Simponi di Taman Suropati

Alunan musik Yesterday terdengar mendayu-dayu di Taman Surapati. Orang terhipnotis mendengarnya. Jelas, mereka bukan The Beatles yang menciptakan dan memainkan lagu tersebut. Lalu, siapa gerangan pemain musik itu? Sekelompok musisi tampak asyik berinteraksi, memainkan instrumen saksofon, biola, akordion, dan gitar. Mereka beriringan memainkan lagu dari grup musik asal Inggris. Orang yang menyaksikan pertunjukan mereka terlena. Ada sebuah keunikan yang tampak malam itu. Pertunjukan dimainkan bukan di tempat opera atau gedung orkestra nan megah dengan para penikmat mengenakan jas dan gaun indah. Namun, mereka memainkannya di tengah hujan lebat di sisi Taman Surapati, Menteng, Jakarta Pusat. Hari itu hujan turun begitu deras. Orang-orang berdesakan mencari tempat teduh. Mereka bercampur baur bersama penjual kopi keliling, penjaja rokok, dan pejalan kaki yang sekadar berteduh. Sementara di sudut lain, tampak sejumlah muda-mudi asyik mendengarkan alunan musik.

Bagi mereka, suasana makin romantis di bawah temaran lampu taman. Semuanya ini menjadi sebuah simfoni di Taman Surapati. Kumpul-kumpul di Taman Surapati, apalagi sampai bertahan di bawah guyuran hujan, bukanlah orang-orang kurang kerjaan. Di tempat ini mereka telah menyatu menjadi sebuah komunitas. Seniman Jalanan Musisi yang tampil semalam itu adalah bagian dari komunitas Taman Surapati Chambers (TSC). Komunitas ini awalnya hanya seniman-seniman jalan yang sering berkumpul dan mendendangkan lagu di taman yang dekat dengan rumah Kedubes Amerika dan Wakil Presiden. Mereka berkumpul secara rutin sekadar untuk saling berinteraksi dengan musik. Pada pagi harinya, TSC yang diliput MERDEKA dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda, berkumpul mengadakan upacara bendera. Yudi salah satu pentolan TSC menceritakan, upacara dan pembacaan ikrar Sumpah Pemuda yang berjalan khidmat diiringi alunan musik biola, violin, alto, cello, double bass, dan accordion merupakan bagian dari kebersamaan dan kecintaan untuk menyatukan semangat komunitas TSC. Disebutkan, komunitas TSC terbentuk bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional tahun 2007. Mulanya hanya sekumpulan empat orang pemain biola saja. Salah satu tokoh yang membidaninya adalah Mas Ages. Semakin lama anggotanya makin bertambah. Komunitas TSC tak pandang status. Orang-orang yang tergabung di dalamnya ada pedagang, pengamen, pegawai kantor, pelajar, bahkan pengusaha turut menjadi anggota atau sekadar partisan. Latar belakang Yudi yang sudah bergabung sejak setahun lalu memiliki latar belakang sebagai pengajar biola di kawasan Bintaro. Ia belajar biola pada tahun 90-an. Diakuinya, jauh-jauh dari Bogor setiap Minggu ia bertandang ke TSC, sekadar untuk berbagi dan mengasah keterampilan permainan biolanya. Melalui TSC ia bisa mengembangkan bakat. “Bagi saya, berada di komunitas bisa menambah ilmu tentang musik dan memiliki aset,” ucapnya. Yudi mencontohkan, Bagus merupakan salah satu ‘anak didiknya’. Bagus datang dari Bekasi dan sudah tiga bulan belajar di TCS. “Saya ajari dia bermain biola. Sekarang setiap minggu ia turut membantu pengajar di sini untuk les bagi anak-anak. Itu yang dilakukan bagi mereka yang sudah berketerampilan. Itu bagus sebagai investasi. Ketika nanti ia sudah mahir, saat diperlukan tenaga didik yang andal, saya tinggal memanggil dan mengajaknya mengajar,” tutur Yudi.

Sampai Istana Taman Surapati Chambers bukan kelompok pemusik yang hanya berkumpul dan membicarakan tentang musik. Biasanya, setiap Minggu pagi di taman kawasan rumah pejabat tinggi negara itu ada kegiatan les biola. Mereka yang ikut les ditarik iuran secara sukarela bagi yang mampu. Tujuan iuran untuk mensubsidi anak-anak yang ikut les tapi tidak memiliki kemampuan untuk biayanya. Selain kelompok musik TSC, di Taman Surapati juga ada komunitas lain. Sebut saja komunitas teater, gitar, not balok, biola seni tari, dan seni rupa yang belum lama ini dibentuk. Di sini mereka saling berbagi ilmu dan kepandaian. Satu dengan lainnya saling melengkapi untuk kebersamaan hobi dan minat. Komunitas yang ada di Taman Surapati terbentuk berdasarkan kesamaan hobi. Pembentukannya berasaskan kebersamaan, tidak ada tebang pilih. Itu makanya, berangkat dari kebersamaan, gaung musiknya terdengar hingga ke istana. Saat peringatan Kemerdekaan bulan Agustus kemarin, TSC dipanggil ke istana. “Orkestra kami diundang untuk mengiringi upacara penurunan bendera pada sore hari,” ujar Yudi. Disebutkan, sampai saat ini anggota komunitas Taman Surapati telah mencapai kurang lebih 200 orang. Jumlah ini belum termasuk kelompok lain yang bergabung belakangan. Sebab, setiap orang bisa menjadi anggota kelompok. “Untuk musik dan seni I Gift Anything.” Kata-kata Ages ini selalu terngiang di telinga Yudi. (as/merdekainteraktif.com)

Berdiri : 20 Mei 2007
Tokoh Pendiri : Mas Ages
Jumlah Anggota : 200 orang
Jenis Komunitas : Komunitas Seni
Aktivitas :

  1. Pernah melakukan konser di Balai Sidang Jakarta.
  2. Diundang pentas ke Istana Negara dan didengarkan langsung presiden dalam acara parade senja.
  3. Tempat belajar musik bagi anak-anak dan umum.

Anggota :
pedagang, pengamen, pegawaikantor, pelajar, pengusaha dan partisan

Jadwal Kegiatan:
Minggu :
Pukul 10:00 – 12:00 WIB
Les Biola untuk anak-anak.

Pukul 13:00
Untuk tingkat remaja dan dewasa

6 April 2009 at 2:45 pm 42 komentar

SYAIR TAMAN

Sepoinya angin dan hijaunya rerumputan
Sayup-sayup terdengar alunan irama
Puluhan pasang mata menatap
Apa yang terlihat di hamparan lapang

Tua, Muda Kaya, Miskin tengan berdendang
Menetramkan hati setiap insan
Yang ada
Itulah laguku, Jiwaku dan Semangatku
Yang lama kurindukan syairnya
Dialunkan

Diatas hamparan rerumputan
Di Taman Suropati kudapat
Kelembutan
Lagu lama yang telah hilang
Kini mulai menggema lagi

2
1

30 Maret 2009 at 12:02 pm 6 komentar


Mei 2017
S S R K J S M
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031